SISTEM
PENUNJANG KEPUTUSAN PENERIMAAN BEASISWA
MENGGUNAKAN
METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
(STUDI
KASUS PENERIMAAN BEASISWA DI SMAN2 METRO)
1. Pendahuluan
Proses seleksi
siapakah yang berhak menerima beasiswa pada SMAN 2 Metro masih mengalami
kendala pada proses hasil pengambilan keputusan. Hal ini dikarenakan
belum ada metode yang objektif untuk memutuskan dengan cepat, berdasarkan
data yang ada siapa saja yang berhak menerima beasiswa tersebut. Untuk itu maka
penelitian ini mencoba mengggunakan metode Analytical Hierarcy Process (AHP).
Metode Analytical Hierarchy Process adalah salah satu metode
yang digunakan untuk penyelesaian sistem pengambilan keputusan. Ada 2 mekanisme
yang digunakan dalam penghitungan AHP di antaranya menggunakan metode
konvensional (manual), baik itu menggunakan normalisasi ataupun
tidak, dan menggunakan perangkat lunak, seperti expert choice.
Penelitian ini akan membahas penghitungan AHP secara
manual dan menggunakan expert choice, untuk mendapatkan hasil keputusan
yang konsisten (inconsistency = 0,00).
Kesalahan biasanya terjadi pada penentuan bobot dan proses membandingkan secara
berpasangan. Perbandingan
berpasangan yang
tidak benar akan menghasilkan keputusan yang tidak konsisten. Metodologi yang
digunakan adalah tinjauan pustaka dan pengolahan data.
2. Landasan
Teori
2.1 Konsep
Sistem Pendukung Keputusan
Menurut Mat dan
Watson, Sistem Penunjang Keputusan (SPK) merupakan suatu sistem interaktif yang
membantu pengambilan keputusan melalui penggunaan data dan
model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya
semi terstruktur dan tidak terstruktur. Sedangkan menurut Moore dan Chang, SPK
adalah sistem yang dapat dikembangkan, mampu mendukung analisis data dan
pemodelan keputusan, berorientasi pada perencanaan masa mendatang,
serta tidak bisa direncanakan interval (periode) waktu pemakaiannya. Bonezek,
Hosapple dan Whinston mendefinisikan SPK sebagai suatu sistem yang
berbasiskan komputer yang terdiri dari 3 komponen yang berinteraksi satu
dengan yang lainnya, yaitu:
- Language system, adalah
suatu mekanisme untuk menjembatani (interface) pemakai dan komponen
lainnya.
- Knowledge system, adalah
repositori pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tertentu baik
berupa data maupun prosedur.
- Problem processing system, adalah
sebagai penghubung kedua komponen lainnya, berisi satu atau beberapa kemampuan
manipulasi atau menyediakan masalah secara umum, yang diperlukan dalam
pengambilan keputusan.
2.1.1
Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan
Karakteristik
dari Sistem Pendukung Keputusan yang membedakan dari sistem informasi lainnya
adalah:
- SPK
dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang
sifatnya semi terstruktur ataupun
tidak terstruktur.
- Dalam
proses pengolahannya, SPK mengkombinasikan penggunaan
model-model/teknik-teknik analisis dengan teknik
pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari/interogasi
informasi.
- SPK
dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan/dioperasikan dengan
mudah oleh orang-orang yang tidak memiliki
dasar kemampuan pengoperasian komputer yang tinggi. Oleh karena itu
pendekatan yang digunakan biasanya
model interaktif.
- SPK
dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan
adaptasi yang tinggi. Sehingga mudah disesuaikan
dengan berbagai perubahan lingkungan yang terjadi dan kebutuhan pemakai.
2.1.2 Keuntungan
dan Keterbatasan Sisrem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung
keputusan dapat memberikan berbagai manfaat atau keuntungan bagi pemakainya,
antara lain:
- Memperluas
kemampuan pengambilan keputusan dalam memproses data/informasi bagi
pemakainya.
- Membantu
pengambilan keputusan dalam hal penghematan waktu yang dibutuhkan untuk
memecahkan masalah terutama berbagai masalah yang sangat kompleks
dan tidak terstruktur.
- Dapat
menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.
- Walaupun
suatu Sistem Pendukung Keputusan, mungkin saja tidak mampu memecahkan
masalah yang dihadapi oleh pengambil
keputusan, namun dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam
memahami persoalannya, karena
sistem pendukung keputusan mampu menyajikan berbagai alternatif.
- Dapat
menyediakan bukti tambahan untuk memberikan bukti tambahan untuk
memberikan pembenaran sehingga posisi
pengambil keputusan.
2.1.3
Komponen-komponen Sistem Pendukung Keputusan
Efraim Turban,
dalam bukunya Decision support system and Intelligent System, Aplikasi
Sistem Pendukung Keputusan bisa
dikomposisikan dengan subsistem berikut ini:

Gambar
1. Komponen SPK
2.1.4 AHP (Analytical
Hierarchy Process)
Menurut Turban, Analytic
Hierarchy Process (AHP) yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty berguna
membantu pengambil keputusan untuk mendapat keputusan terbaik
dengan membandingkan faktor-faktor yang berupa kriteria. AHP memungkinkan
pengambil keputusan untuk menghadapi faktor yang nyata dan faktor yang tidak
nyata. Dengan AHP,
seseorang dapat
mengatur pendapat dan intuisi dengan cara logika menggunakan hierarki dan
memasukkan penilaian berdasarkan pengertian dan pengalaman. Pendekatan
ini dapat menerima faktor ketidakpastian dan mengijinkan perubahan
sehingga individu dan kelompok bisa menghadapi semua persoalan. Jawaban yang
dihasilkan dapat dites untuk sensitivitas merubah penilaian. Masalah
dipecahkan menjadi unsur-unsur pokok yang lebih kecil sehingga pembuat keputusan
hanya membuat penilaian perbandingan yang lebih sederhana melalui hierarki
untuk sampai kepada seluruh prioritas
alternatif tindakan.
3. Implementasi
Sistem
3.1
Mendefinisikan Masalah dan Solusi Yang Diinginkan
Masalah yang
muncul adalah bagaimana memutuskan untuk memilih siswa yang akan mendapat
beasiswa yang sesuai dengan syarat dan prioritas yang telah ditetapkan
oleh pemegang keputusan, dalam hal ini adalah pihak sekolah. Solusi yang
diinginkan adalah menetapkan siswa penerima beasiswa yang sesuai dengan
kriteria syarat dan prioritas yang telah ditetapkan.
3.2
Pengelompokan Kriteria-Kriteria Menjadi Sebuah Hirarki
Kriteria-
kriteria yang mempengaruhi di dalam pengambilan keputusan dikelompokkan ke
dalam 3 kriteria, di antaranya prestasi siswa,
faktor ekonomi orang tua, dan faktor inklusi. Masing-masing kriteria
digambarkan dalam hirarki di bawah ini:

Gambar
2. Hirarki Kriteria
3.3 Menentukan
Skala Untuk Perhitungan Bobot Kriteria
Untuk menghitung
bobot dari masing-masing kriteria, sistem akan meminta input dari pengguna
mengenai intensitas kepentingan dari kriteria-kriteria yang dibagi
menjadi 3 kriteria, yaitu: kriteria prestasi, kriteria ekonomi, dan kriteria inklusi.
Berikut ini adalah ukuran yang ditetapkan untuk menilai suatu kriteria:
Tabel
1. Bobot Kriteria
Parameter
|
Ukuran Nilai
|
Sangat penting
|
5
|
Penting
|
3
|
Cukup Penting
|
2
|
Kurang Penting
|
1
|
Sumber:
Data hasil pengolahan
3.4 Menentukan
skala untuk data per calon
Berikut ini
adalah aturan penilaian yang akan diberikan untuk menghitung nilai dari
masing-masing calon:
1. Prestasi
Tabel
2. Paramater Ukuran Berdasarkan Prestasi
Parameter
|
Ukuran
Nilai
|
Tidak
berprestasi
|
1
|
Berprestasi
tingkat sekolah
|
2
|
Berprestasi
tingkat kota
|
3
|
Berprestasi
tingkat provinsi
|
4
|
Berprestasi
tingkat nasional
|
5
|
Sumber:
Data hasil pengolahan
2. Ekonomi
Tabel
3. Paramater Ukuran Berdasarkan Ekonomi
Parameter
|
Ukuran
Nilai
|
Mampu:
Penghasilan orang tua >= Rp.1juta
|
1
|
Tidak Mampu:
Penghasilan orang tua Rp. 500 ribu-1juta
|
3
|
Sangat
Tidak Mampu: Penghasilan orang tua < 500 ribu
|
5
|
Sumber:
Data hasil pengolahan
3. Inklusi
Tabel
4. Parameter Ukuran Berdasarkan Inklusi
Parameter
|
Ukuran
Nilai
|
Tidak
cacat, tidak bodoh, tidak IQ superior (normal)
|
1
|
Bodoh
|
3
|
IQ
superior
|
4
|
Cacat
|
5
|
Sumber:
Data hasil pengolahan
3.5 Membuat matrik
perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh
setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di
atasnya.
Tabel 5. Matriks
Perbandingan Level 1
Skala
|
Prestasi
|
Ekonomi
|
Inklusi
|
Bobot
|
|
Prestasi
|
5
|
1,00
|
1,67
|
1,67
|
0,455
|
Ekonomi
|
3
|
0,60
|
1,00
|
1,00
|
0,272
|
Inklusi
|
3
|
0,60
|
1,00
|
1,00
|
0,272
|
2,20
|
3,67
|
3,67
|
1,00
|
Sumber:
Data Hasil Pengolahan
Berikut adalah
alternatif-alternatif siswa calon penerima beasiswa dengan masing-masing
kriteria (secara berurutan menurut
prestasi, ekonomi, dan inklusi):
a. Siswa 1:
berprestasi tingkat sekolah, tidak mampu,cacat.
b. Siswa 2:
tidak berprestasi, sangat tidak mampu, dan bodoh.
c. Siswa 3:
berprestasi tingkat kota, tidak mampu, dan IQ superior.
d. Siswa 4:
berprestasi tingkat provinsi, mampu, dan normal.
e. Siswa 5:
berprestasi tingkat sekolah, sangat tidak mampu, dan normal.
Tabel 6. Matriks Perbandingan Level 2 Berdasarkan
Prestasi
Skala
|
Siswa 1
|
Siswa 2
|
Siswa 3
|
Siswa 4
|
Siswa 5
|
Bobot
|
|
Siswa 1
|
2
|
1
|
2
|
1
|
3
|
0,6
|
0,176
|
Siswa 2
|
1
|
0,5
|
1
|
1,667
|
5
|
1
|
0,294
|
Siswa 3
|
3
|
1,5
|
3
|
1
|
3
|
0,6
|
0,176
|
Siswa 4
|
4
|
2
|
4
|
0,333
|
1
|
0,2
|
0,059
|
Siswa 5
|
2
|
1
|
2
|
1,667
|
5
|
1
|
0,294
|
6
|
12
|
5,667
|
17
|
3,4
|
1,00
|
Sumber:
Data Hasil Pengolahan
Tabel
7. Matriks Perbandingan Level 2 Berdasarkan Ekonomi
Skala
|
Siswa 1
|
Siswa 2
|
Siswa 3
|
Siswa 4
|
Siswa 5
|
Bobot
|
|
Siswa 1
|
3
|
1
|
0,6
|
1
|
3
|
0,6
|
0,176
|
Siswa 2
|
5
|
1,667
|
1
|
1,667
|
5
|
1
|
0,294
|
Siswa 3
|
3
|
1
|
0,6
|
1
|
3
|
0,6
|
0,176
|
Siswa 4
|
1
|
0,333
|
0,2
|
0,333
|
1
|
0,2
|
0,059
|
Siswa 5
|
5
|
1,667
|
1
|
1,667
|
5
|
1
|
0,294
|
5,667
|
3,4
|
5,667
|
17
|
3,4
|
1,00
|
Sumber:
Data Hasil Pengolahan
Tabel
8. Matriks Perbandingan Level 2 Berdasarkan Inklusi
Skala
|
Siswa 1
|
Siswa 2
|
Siswa 3
|
Siswa 4
|
Siswa 5
|
Bobot
|
|
Siswa 1
|
5
|
1
|
01,667
|
1,25
|
5
|
5
|
0,357
|
Siswa 2
|
3
|
0,6
|
1
|
0,75
|
3
|
3
|
0,214
|
Siswa 3
|
4
|
0,8
|
1,333
|
1
|
4
|
4
|
0,286
|
Siswa 4
|
1
|
0,2
|
0,333
|
0,25
|
1
|
1
|
0,071
|
Siswa 5
|
1
|
0,2
|
0,333
|
0,25
|
1
|
1
|
0,071
|
2,8
|
4,666
|
3,5
|
14
|
14
|
1,00
|
Sumber:
Data Hasil Pengolahan
Langkah terakhir
dari proses AHP adalah perhitungan total nilai pada masing-masing calon dengan
cara mengalikan bobot utama pada level 1 dengan nilai calon per
kategori yang telah dihitung pada proses sebelumnya. Perhitungan total nilai
digambarkan pada tabel berikut, yaitu:
Tabel
9. Matriks Nilai Total dari Masing-masing Calon
Prestasi
|
Ekonomi
|
Inklusi
|
Bobot
|
|
Siswa 1
|
0,076
|
0,048
|
0,097
|
0,221
|
Siswa 2
|
0,038
|
0,08
|
0,058
|
0,176
|
Siswa 3
|
0,114
|
0,048
|
0,078
|
0,24
|
Siswa 4
|
0,152
|
0,016
|
0,019
|
0,187
|
Siswa 5
|
0,076
|
0,08
|
0,019
|
0,175
|
Sumber:
Data Hasil Pengolahan
Berdasarkan
perhitungan matriks seleksi penerimaan beasiswa di atas, dipilih Siswa 3 dengan
nilai prioritas sebesar 0,24 atau 24%.
4. Hasil
Implementasi Dengan Software Expert Choice
Untuk
mendapatkan hasil keputusan yang konsisten (inconsistency = 0,00), data hasil
olah manual dengan nilai < 1 perlu diadaptasi untuk
pairwise comparison, menggunakan rumus:
Contoh:
aij = artinya perbandingan mengarah ke kanan pada pairwise
comparison, ditandai dengan warna merah.

Gambar
3. Pairwise Comparison Pada Expert Choice

Gambar
4. Hasil Implementasi Menggunakan Expert Choice

Gambar
5. Hasil Prioritas Penerima Beasiswa
5. Kesimpulan
Dari bahasan
yang telah disimpulkan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
- Metode
AHP secara manual dapat dijadikan patokan untuk pemasukan data pada expert
choice
- Untuk
menggunakan expert choice dibutuhkan data penghitungan manual yang
akurat.
- Kesalahan
dalam pemasukan data pada expert choice akan berpengaruh fatal pada
data yang dihasilkan
Beberapa saran
pengembangan termasuk:
- Dibutuhkan
suatu perangkat lunak yang handal untuk menyelesaikan penghitungan data
untuk sistem pendukung keputusan
yang menggunakan metode AHP, sehingga data yang dihasilkan akurat.
- Dalam
pengolahan database dan pengaksesan Sistem Pendukung Keputusan yang
diusulkan hanya dilakukan oleh orang-orang
yang berkepentingan dan bertanggung jawab saja, karena proses pengambilan
keputusan dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggung jawab.
liat selengkapnya di :mesran.net

0 komentar:
Posting Komentar